Detail Artikel

Detail Artikel


Pelaksanaan Program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) di RSU Rajawali Citra Bantul

Waktu Publish :2023-09-16 13:25:12, Oleh : dr. Asri Priyani M, MPH

Pemerintah lewat Keputusan Menteri Kesehatan No 1511 Tahun 2023 Tertanggal 20 Juli 2023 memberlakukan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pelayanan Kebidanan dan Neonatal Dalam Rangka Implementasi PMK No 3 Tahun 2023 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program JKN.

 

Keputusan ini mengatur bahwa setelah tanggal 1 September 2023,  mulai diwajibkan bagi faskes tingkat lanjut (FKRTL) dalam pelayanan persalinan sekaligus wajib melakukan sampling SHK bagi bayi baru lahirnya. Rumah sakit hanya dapat melakukan klaim persalinan jika disertai bukti sampling SHK, Sehingga perlu peran aktif peserta BPJS dalam hal ini dalam program ini. Untuk pasien yang menolak pemeriksaan SHK diluar dari pengecualian yang ada dalam KMK 1511 Tahun 2023 maka tidak dapat menggunakan hak nya dengan penjaminan BPJS tersebut karena RS tidak dapat melakukan klaim persalinan tersebut ke BPJS sesuai regulasi.

 

Bagi masyarakat yang bersalin di rumah area Bantul seperti di RSU Rajawali Citra yang menggunakan BPJS maka akan terjamin secara keseluruhan termasuk SHK ini, namun jika tidak memiliki akses penjaminan BPJS, maka penjaminan  untuk bahan habis pakai dan jasa pemeriksaan sampel di laboratorium rujukan berasal dari DAK nonfisik Kabupaten Bantul selama tahun 2023 atau diklaim ke APBN Dirjen Kesmas, sehingga masyarakat hanya membayar biaya sampling di rumah sakit saja .

 

Hipotiroid Kongenital adalah keadaan menurun atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid yang didapat sejak bayi baru lahir. Hal ini terjadi karena kelainan anatomi atau gangguan metabolisme pembentukan hormon tiroid atau defisiensi iodium.

 

Lebih dari 95% bayi dengan Hipotiroid Kongenital tidak memperlihatkan gejala saat dilahirkan. Kalaupun ada sangat samar dan tidak khas. Tanpa pengobatan, gejala akan semakin tampak dengan bertambahnya usia. Gejala yang dapat muncul diantaranya adalah aktivitas yang menurun, kuning, lidah besar, hidung pesek, kulit kering, mudah tersedak, tonus otot menurun, dll. Jika sudah muncul gejala klinis, berarti telah terjadi retardasi mental. Untuk itu penting sekali dilakukan SHK pada semua bayi baru lahir sebelum timbulnya gejala klinis di atas, karena makin lama gejala semakin berat.

 

Sampling / pengambilan darah akan dilakukan melalui tumit bayi (heel prick), untuk kemudian darah diteteskan pada kertas saring khusus sampai bulatan kertas samling terisi darah, kemudian setelah  kering dikirim ke laboratorium SHK.  Waktu ideal pengambilan sampling adalah ketika umur bayi 48 sampai 72 jam.

 

Jika didapatkan hasil tes tinggi maka orangtua bayi akan segera dihubungi. Tata laksana Hipotiroid Kongenital dapat dilaksanakan di FKRTL oleh dokter spesialis anak juga disertai tes konfirmasi di Laboratorium terstandar atau Laboratorium Rujukan. Bagaimana jika hasil nya Negatif? Hal ini akan ditindaklanjuti dengan pemantauan tumbuh kembang di FKTP.

 

Ayo jangan lupa untuk ikut aktif dalam program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) ini demi mengurangi risiko kecacatan pada anak.




Kembali